Sakramen Imamat Dalam Gereja Katolik
1. Pengertian Sakramen Imamat
Sakramen Imamat adalah sakramen yang melaluinya seseorang dipanggil dan ditahbiskan menjadi pelayan Gereja untuk mengambil bagian dalam imamat Kristus, Sang Imam Agung dan Gembala Umat. Melalui sakramen ini, seseorang diangkat menjadi alat Kristus untuk melayani umat Allah melalui pewartaan Sabda, perayaan sakramen-sakramen, dan pelayanan kasih.
Kata imamat berasal dari kata imam, yang berarti “orang yang mempersembahkan korban” atau “perantara antara Allah dan manusia.” Dalam Gereja Katolik, imamat bukanlah profesi atau jabatan manusiawi, melainkan panggilan suci dari Allah yang ditanggapi dengan iman dan penyerahan diri.
Imam bertindak in persona Christi Capitis, artinya “dalam pribadi Kristus sebagai Kepala Gereja.” Maka, ketika seorang imam mempersembahkan Ekaristi, mengampuni dosa, atau memberkati umat, sesungguhnya Kristus sendirilah yang bertindak melalui dirinya.
2. Dasar Biblis Sakramen Imamat
Imamat dalam Gereja Katolik memiliki dasar yang kuat dalam Kitab Suci:
- Yesus memanggil dan menetapkan para rasul sebagai rekan dan pelayan-Nya (lih. Markus 3:13–19).
- Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus memberikan kuasa kepada para rasul untuk mempersembahkan Ekaristi: “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku” (Lukas 22:19).
- Setelah kebangkitan-Nya, Yesus memberikan kuasa untuk mengampuni dosa: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni” (Yohanes 20:22–23).
Para rasul kemudian menumpangkan tangan atas para pengganti mereka (lih. Kisah Para Rasul 6:6; 1 Timotius 4:14; 2 Timotius 1:6). Dengan demikian, imamat Kristus diteruskan secara turun-temurun melalui tahbisan suci.
3. Tujuan dan Makna Sakramen Imamat
Tujuan utama Sakramen Imamat adalah:
- Menguduskan umat Allah melalui pelayanan sakramen-sakramen.
- Mewartakan Sabda Allah dengan setia dan berani.
- Menggembalakan umat Allah dengan kasih Kristus sebagai Gembala yang baik.
Dengan demikian, imam bukan hanya pelaksana tugas liturgi, tetapi seorang gembala yang menuntun umat menuju keselamatan dan kesatuan dengan Allah.
4. Tiga Tingkatan Sakramen Imamat
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Sakramen Imamat memiliki tiga tingkatan atau jenjang tahbisan, yaitu:
- Uskup (Episkopat)
Uskup menerima kepenuhan Sakramen Imamat. Ia menjadi penerus langsung para rasul dan memiliki kuasa penuh untuk mengajar, menguduskan, dan memimpin Gereja lokal (keuskupan). Hanya uskup yang dapat menahbiskan diakon, imam, dan uskup baru. - Imam (Presbiterat)
Imam bekerja sama dengan uskup dalam menggembalakan umat. Ia diutus untuk melayani umat Allah terutama melalui pewartaan Sabda, perayaan Ekaristi, dan pelayanan sakramen-sakramen lainnya. Imam menjadi gembala bagi umat di paroki-paroki dan komunitas Gereja. - Diakon (Diakonat)
Diakon membantu uskup dan imam dalam pelayanan Sabda, altar, dan karya kasih. Ia dapat mewartakan Injil, membaptis, memberkati perkawinan, dan memimpin ibadat sabda, tetapi tidak mempersembahkan Ekaristi dan tidak memberikan absolusi dosa.
5. Tanda dan Ritus Sakramen Imamat
Ritus pokok dalam Sakramen Imamat adalah:
- Penumpangan tangan oleh uskup di atas kepala calon imam sebagai tanda turunnya Roh Kudus dan penyerahan tugas pelayanan.
- Doa Tahbisan, di mana uskup memohon agar Allah menganugerahkan rahmat dan kuasa pelayanan imamat kepada yang ditahbiskan.
Ritus tambahan meliputi:
- Pengurapan tangan dengan minyak krisma sebagai tanda pengudusan tangan untuk mempersembahkan kurban suci.
- Penyerahan patena dan piala, lambang tugas mempersembahkan Ekaristi.
- Cium damai dari uskup dan para imam sebagai tanda penerimaan ke dalam persekutuan imamat.
6. Buah dan Rahmat Sakramen Imamat
Sakramen Imamat memberikan rahmat khusus dari Roh Kudus agar yang ditahbiskan dapat melayani Gereja dengan setia dan berbuah.
Buah-buahnya antara lain:
- Tanda rohani yang tidak terhapuskan (character indelebilis), yang menjadikan seseorang selamanya imam Kristus, meskipun tidak lagi menjalankan tugas pelayanan.
- Rahmat pelayanan, yaitu kekuatan rohani untuk melayani umat dengan kasih, kerendahan hati, dan pengorbanan.
- Rahmat pengudusan, agar imam semakin serupa dengan Kristus Gembala yang baik.
7. Hidup dan Panggilan Imam
Hidup imam ditandai oleh:
- Ketaatan kepada uskup dan Gereja, sebagai tanda penyerahan diri kepada kehendak Allah.
- Kemiskinan rohani, dengan meneladan Kristus yang hidup sederhana dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Bapa.
- Selibat, yakni memilih hidup tidak menikah demi kerajaan Allah, agar dapat mencintai dan melayani umat dengan hati yang utuh.
Hidup imam bukanlah hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Allah dan umat-Nya. Imam adalah tanda kasih Kristus yang hadir di tengah dunia, seorang gembala yang memimpin bukan dengan kekuasaan, tetapi dengan teladan hidup.
8. Tantangan dan Harapan
Menjadi imam di zaman sekarang tidaklah mudah. Dunia modern sering menantang nilai-nilai iman, kesederhanaan, dan kesetiaan. Namun, justru di tengah tantangan inilah, Gereja memerlukan imam-imam yang kudus, berani, dan penuh kasih.
Gereja juga mengajak seluruh umat untuk mendoakan panggilan imamat, agar semakin banyak orang muda yang berani menjawab panggilan Tuhan dan menyerahkan hidupnya untuk melayani Gereja.
9. Penutup
Sakramen Imamat adalah tanda kasih Allah yang luar biasa bagi Gereja. Melalui para pelayan tertahbis, Kristus sendiri hadir, berkarya, dan membimbing umat-Nya menuju keselamatan.
Sebagaimana Yesus berkata:
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu dan menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah” (Yohanes 15:16).
Maka, Sakramen Imamat bukan sekadar tugas manusia, tetapi panggilan ilahi untuk menghadirkan kasih Allah yang hidup di tengah dunia.
