Selasa, 7 Oktober 2025
Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu Rosario
Injil: Lukas 1:26–38
Hari ini kita merayakan Santa Perawan Maria sebagai Ratu Rosario, sebuah gelar yang mengingatkan kita pada kekuatan doa yang sederhana, namun luar biasa: Doa Rosario.
Injil yang baru saja kita dengar mengisahkan peristiwa Kabar Gembira: malaikat Gabriel diutus kepada Maria untuk membawa kabar bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang Anak yang akan disebut Anak Allah. Jawaban Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu,” menjadi inti dari seluruh misteri Rosario: ketaatan, iman, dan penyerahan diri total kepada kehendak Allah.
Saudara-saudari, Doa Rosario bukan sekadar pengulangan kata. Ia adalah meditasi atas misteri kehidupan Yesus bersama Maria. Dalam setiap salam Maria, kita diajak untuk masuk lebih dalam dalam peristiwa-peristiwa hidup Yesus — dari sukacita kelahiran-Nya, penderitaan di salib, hingga kemuliaan kebangkitan-Nya.
Melalui Rosario, Maria menggandeng kita untuk menatap wajah Yesus dengan mata seorang ibu: penuh kasih, penuh iman, dan penuh pengharapan.
Dalam dunia yang semakin bising dan sibuk, doa Rosario menjadi seperti tali pengikat hati — menghubungkan kita kembali dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri kita sendiri. Saat kita mendaraskan Rosario, kita belajar dari Maria untuk berkata, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”
Itulah doa yang paling sempurna, doa yang membuat hidup kita selaras dengan rencana Allah.
Marilah hari ini kita memperbarui devosi kita kepada Santa Perawan Maria, Ratu Rosario. Mari kita ambil Rosario kita kembali, bukan sebagai hiasan, tetapi sebagai senjata rohani melawan ketakutan, kegelisahan, dan dosa.
Dengan berdoa Rosario, kita tidak hanya menghormati Maria, tetapi juga menyambut Yesus yang ia bawa ke dalam dunia dan ke dalam hati kita.
Semoga bersama Maria, Ratu Rosario, kita semakin tekun berdoa, setia mendengarkan sabda, dan berani berkata seperti dia: “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”
Amin.
