Mereka Yang Bertahan Akan Memperoleh Hidup
Minggu, 16 November 2025 – Minggu Biasa XXXIII
Mal 4:1-2a; 2Tes 3:7-12; Luk 21:5-19
Hari ini kita memasuki Minggu Biasa ke-XXXIII, dua pekan terakhir sebelum Tahun Liturgi berakhir. Bacaan-bacaan hari ini secara jelas mengarahkan kita pada satu fokus: kesiapsiagaan rohani menghadapi kedatangan Tuhan di akhir zaman. Namun Gereja tidak mengajak kita untuk menebak-nebak kapan itu terjadi, melainkan untuk membangun hidup yang setia, tekun, dan bertanggung jawab.
Bacaan pertama dari Nabi Maleakhi mengingatkan bahwa akan tiba hari Tuhan, hari ketika setiap kejahatan akan ditelanjangi dan setiap kebenaran akan dipulihkan. Mereka yang memilih jalan yang jahat akan kehilangan tempat berpijak, sementara mereka yang tetap takut akan Tuhan akan disinari oleh “surya kebenaran.” Pesan ini menegaskan bahwa Allah peduli pada moral hidup kita, pada keadilan yang kita tegakkan, dan pada integritas hati kita.
Seruan Maleakhi tentang pentingnya kesetiaan menemukan gema yang kuat dalam bacaan kedua, ketika Rasul Paulus menegur jemaat Tesalonika yang mulai bersikap malas, pasif, dan hanya menunggu-nunggu kedatangan Tuhan tanpa berbuat sesuatu. Paulus menegaskan bahwa penantian akan Tuhan harus diwujudkan dalam kerja nyata, tanggung jawab, dan komitmen untuk membangun hidup bersama. Ia mencontohkan dirinya dan para rasul yang bekerja keras demi Injil. Dengan demikian, Paulus meluruskan bahwa kesiapsiagaan bukanlah sikap takut atau pasrah, tetapi kesetiaan aktif dalam tugas harian, dalam pekerjaan, dalam pelayanan, dan dalam kepedulian terhadap sesama. Penantian yang benar adalah penantian yang melahirkan karya.
Selanjutnya dalam bacaan Injil yang kita dengarkan tadi, Yesus menubuatkan masa sulit—perang, konflik, pengkhianatan, dan penganiayaan. Ia tidak menyampaikan ini untuk menciptakan ketakutan, tetapi untuk meneguhkan bahwa murid-murid-Nya harus tetap berdiri kokoh di tengah berbagai goncangan. Yesus menegaskan bahwa mereka yang bertahan akan memperoleh hidup. Kesetiaan diukur bukan dalam situasi nyaman, tetapi dalam saat-saat sulit dan tidak pasti.
Dari ketiga bacaan ini, terlihat jelas benang merahnya: kesetiaan kepada Tuhan harus nyata dalam tindakan—melakukan yang benar, bekerja dengan tulus, dan bertahan dalam iman. Kesetiaan bukan hanya menunggu, tetapi menghidupi Injil dari hari ke hari.
Hari ini Gereja juga merayakan Hari Orang Miskin Sedunia, momentum yang sangat relevan dengan situasi kita sekarang. Kita hidup di zaman ketika jurang sosial semakin nyata: harga kebutuhan pokok naik, banyak keluarga berjuang memenuhi kebutuhan dasar, lapangan kerja terbatas, dan tidak sedikit orang tua yang bekerja keras namun tetap terhimpit kesulitan ekonomi. Di sisi lain, budaya individualisme dan persaingan membuat banyak orang tak lagi peka terhadap penderitaan sesamanya.
Dalam kondisi seperti ini, pesan Kitab Suci hari ini justru semakin kuat: kesetiaan kepada Tuhan harus terwujud dalam kepedulian nyata. Jangan sampai kita menjadi seperti jemaat Tesalonika yang hanya menunggu tanpa berbuat. Jangan sampai iman kita hanya berhenti di mulut atau dalam kata-kata indah yang kita ucapkan saat berdoa, tetapi tidak menjamah mereka yang lapar, sakit, terabaikan, dan kehilangan harapan. Kita dipanggil untuk menghadirkan “surya kebenaran” itu melalui sikap berbagi, mendampingi, dan memperjuangkan martabat sesama, terutama mereka yang miskin—baik miskin materi, miskin kasih, maupun miskin iman.
Menjelang akhir Tahun Liturgi ini, marilah kita memperbarui komitmen untuk hidup setia dengan cara yang nyata dan relevan: bekerja dengan jujur, mengasihi tanpa pamrih, peduli pada yang lemah, serta bertahan dalam iman meski banyak tantangan. Semoga Tuhan meneguhkan kita agar menjadi tanda harapan di dunia yang haus akan kasih dan keadilan.
Amin.
